Thursday, 4 October, 2007

Tabrani : Sukarmis

Oleh TABRANI RAB

Disinggung calon independen , Bupati Kuansing Sukarmis yang menjadi salah satu pembicara pada Seminar Nasional di Gedung P2K2 Kampus UNRI Gobah, ia mengatakan “Suka tidak suka saya sendiri setuju saja dengan calon independen. Golkar tidak pernah takut, kita tidak anggap kehadiran calon independen akan menjadi masalah buat kita meski sebagian orang ada yang bilang independen akan menjadi ancaman”. Dikatakannya lagi “Karena yang terjadi, calon independen berani maju hanya berdasarkan kekecewaan dan kemauan kalangan tertentu saja. Karena itulah saya pikir independen ini adalah jalur politik anak TK, jalur politik ingusan. Mereka mengatakan maju hanya karena ada beberapa orang memuji tanpa pernah berpikir ketokohan mereka sudah mengakar atau belum” (Pekanbaru Pos, 4/9).


Entah dari mana Sukarmis mendapat ide tiba-tiba keluarlah pernyataan begitu. Padahal saya baru saja hadir dalam seminar “Jangan bunuh calon independen dalam Pilkada” yang digelar oleh Sierra Communications bekerjasama dengan Pusat Studi Jepang untuk Kemajuan Indonesia. Dalam seminar ini hadir pula Dr. Siti Nurbaya (Sekjen Dewan Perwakilan Daerah), Chris Siner Key Timu (Sekjen Petisi 50), DR. Anni Iwasaki (PUSJUKI). Jumlah media publikasi yang hadir dari media cetak : Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Seputar Indonesia, The Jakarta Post, Riau Pos, Riau Mandiri, Surabaya pos, Riau Tribune, Non-Stop, Media Pekerja, Majalah In-Promo, Koran Jurnas. Media Televisi antara lain : Metro TV, TVRI, Banten-TV, Jak-TV. Radio Elshinta dan RRI Pro-3 FM.

Saya kira karena yang mengajukan makalah ini pakar-pakar alias ahli dalam calon independen dan diajak pula Sukarmis membentangkan makalahnya maka lebih baiklah diundang saya untuk memasangkan popok supaya tak tekencing-kencing dan kalau perlu tak teberak-berak. Pak Sukarmis yang jago kandang ini memang sudah lama saya kenal ketika anak saya Ivan dan Santi praktek di Taluk Kuantan, Sukarmis sebagai Ketua DPRD. Beliau ini sebetulnya tak pernah tau do dengan negara lain paling sampai ke Sentajo. Sekali setahun dapatlah pak Sukarmis jumpa dengan Menteri dari Jakarta atau Gubernur Riau karena ada Pacu Jalur. Entah pandai entah bodoh Bupatinya maka acara tradisional ini diangkatlah menjadi acara darmawisata yang dirayakan seputar 17 Agustus sehingga APBD terhisap. Apa kata orang Toluk kepada saya “Potang Pak acara kok menyambut bulan suci Ramadhan. Kini ko acara ko menyambut 17 Agustus. Nda ado ke rakyat kini ko do. Gubernurpun datang Joheli. Abih lah pitih rakyat”. Karena kayu asik di tebang maka yang membuat jalur ini pun bukan lagi rakyat tapi Pimpro. Abih lah pitih. Itu masih kurang hebat. Di Bagan, Bupatinya membakar tongkang. Sementara gaji guru honor tak dibayar.

Nah, bagaimana sebetulnya calon independen ?

Maka, Dr. Anni Iwasaki dari PUSJUKI (Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia) ada 14 Gubernur di Jepang semua dari Partai Independen. Tetapi Partai Independennya tidaklah kencing di celana atau ingus ala Sukarmis. Dia harus duit banyak dan bukan duit korupsi, mungkin ala Sukarmis juga. Pendidikan mereka tinggi mungkin professor. Sudah itu tidak ada money politic ala Golkar dan tak ada pula juga jegal menjegal ala Golkar. Bagaimana pula Sukarmis ndak bercakap? Pengetahuan sekitar Taluk Kuantanlah, bukan Tokyo-Klantan. Udahlah Pak Sukarmis, Jadi Bupati sajalah baik-baik. Kalau Mahkamah Konstitusi sudah memastikan awak mencakap tak ingusan, artinya secara tak langsung Sukarmis nyindir bahwa Mahkamah Konstitusi itu juga beringus atau ingusan. Pelajari sajalah reboisasi, dananya di korupsi belum lagi sejumlah penduduk Kuansing yang mengasi tanahnya pada Raja Rusli, di kasi hak kepada PT.Tri Bakti Sari Mas, konon 40 orang datang ke saya minta dipertemukan dengan DPR-RI sesudah usahanya semua tak tembus, maka saya bawalah mereka ke DPR Pusat. Menurut laporan Tim ini, Pak Sukarmis, Raja Rusli, Sumardi Tahir dapat imbas juga dari PT ini, sementara ratusan KK rakyatnya berbelatung. Ini perlu dipuji Pak Sukarmis sebagai Bupati Taluk Kuantan yang membelakangi rakyatnya dan mengambil tanah dan mendapat kebun dari PT. Tri Bakti Sari Mas. Apa kata rakyat yang tanahnya dirampok oleh PT. Tri Bakti Sari Mas ini? Walaupun diteken oleh : Ir. Raja Rusli,Pihak Pertama (I) KUD “Prima Sehati”, Benyamin, Dirut PT. Tri Bakti Sari Mas, Batara Hutapea, Pimpinan Cabang PT. Bank Bumi Daya (Pesero), Ir. Tatang Sukmaraganda, M. Agr. Kepala Dinas Perkebunan Tk.I Riau dan H. Ruchiyat Saefuddin, MBA, Bupati KDH Tk. II Indragiri Hulu, tahun 1907. Inilah contoh pekerjaan oknum Golkar di Kuansing.

Apalagi cerita petani Kuansing Pucuk Rantau? Harus Bupati menekan melalui Sekda untuk menekan Kades2 supaya jangan berangkat ke Jakarta, takut rahasianya terbuka. Kenapa pula PT. Citra seperti dimasukkan ke Koran Riau Tribun tanggal 5 September untuk penyelesaian sertifikat petani Plasma Pola ke KKPA, tetapi mengapa petani Plasma Pola ke KKPA yang berada di Pucuk Rantau tak ada penyelesaian sampai saat ini, dengan KUD Prima Sehati dan PT. Tri Bakti Sari Mas. Ada apa? Itu ajalah dulu, pekerjaan rumah Pak Sukarmis, apa pula diatur keterlibatan partai Golkar dalam Pilgub. Sudahlah tak percaya orang pada partai lagi do....sebab partai ini lah jadi calo bagi calon. Tak dapat dinafikkan itu do....semua partai politik main duit. Ada anggota DPRD Kuansing yang mengkondisikan masyarakat di lapangan dengan kerjasama ketua lima ribu sehingga masyarakat tidak bisa banyak berbuat sebab mereka adakalanya diintimidasi dan diisukan anggota tim penyelesaian persengketaan lahan Plasma Pola KKPA dengan masyarakat, yaitu apabila persengkataan ini selesai akan menguntungkan kepada tim itu sendiri. Pada hakikatnya keberhasilan tim itu bukanlah untuk sekelompok masyarakat saja akan tetapi untuk keseluruhan masyarakat se Pucuk Rantau.

Kalau uang pancung aleh sudah dikasih kepada desa maka kepala desa inipun tak lagi dapat berangkat mengadukan nasib penduduknya yang diintimidasi oleh kelompok mulai dari Camat, Sekda sampai Bupati. Pokoknya di Kuansing itu sekarang orang-orang yang terkemuka, tokoh dan penokoh masyarakat seperti merampok hak-hak ulayat rakyat. Sepanjang hidup saya belum pernah saya melihat pemuka masyarakat disembunyikan sendalnya oleh masyarakatnya sendiri. Sangkingkan dongkolnya sebab tanah mereka diserahkan kepada PT. Tri Bakti Sri Mas. Satu kali wartawan Padang Expresss Zaili Asril berbisik kepada saya “Pak Tabrani, masak Raja Rusli diolok-olokkan orang dikampungnya sendiri” dan saya dengar cerita entah iya entah tidak. Raja Rusli ini berani ke kampungnya cuma malam hari. Ntah iya entah tidak. Setau saya kampung saya di Bagan sesudah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsa, maka Bagan itulah tanah suci bagi saya. Kalau kampung kita nodai sendiri. Masyaallah...hanya karena fuluuuuuuus......padahal yang diharapkan adalah yang dielu-elukan masyarakatnya, karena kecintaan masyarakatnya dan membela masyarakatnya. Ini ndak, dijual tanah nenek moyang kepada toke. Udahlah Pak Sukarmis, tak usah lagi dibincangkan lagi calon independen menjadi ingus. Bicarakanlah diri awak sendiri memakai pempers....Pak Sukarmis kan tau partai Demokrat hanya 8 % nya..dapat SBY duduk, dimana seh Golkaaaaaaaarrrr.......????????



No comments: