TABRANI RAB
Tiba-tiba telepon berdering dan diikuti dengan suara “Pak Tabrani buku yang Bapak kirim sudah saya terima, saya mohon kita dapat berbincang di rumah saya”. Sejenak saya terduduk, jangan-jangan masalah Ampaian Rotan juga yang tak selesai-selesai. Masyaallah, Kapolda menampilkan peranan illegal logging PT Indah Kiat dan RAPP. Sejak tahun 1980 belum lagi Indah Kiat terbangun, ribuan tual kayu ini yang dikoordinir oleh Dinas Kehutanan diangkut oleh Sungai Siak. Dan dinas ini pulalah dengan korporat-korporat berkongsi meluluhlantakkan hutan Riau. Pada tahun 1983 ketika izin diberikan kepada Indah Kiat saya pun menangisi bakal hancurnya hutan Riau. Tanya kenapa? Karena Riau dengan perampok hutan dari Singapura dan Kuala Lumpur jaraknya sejengkal. Begitu Bupati Bengkalis menebang hutan Meskom seminggu kemudian saya datang, luluh lantak hutan Meskom.
Dari 10 tahun sesudah Indah Kiat beroperasi luluhlantak hutan Riau 350 ribu hektare yang diberi izin oleh pusat. Ternyata dalam operasinya 20 tahun tak juga cukup hutan yang seluas ini. Satu kali Arifin Ahmad yang sudah pensiun dari Gubernur Riau menjual HPH PT Meranti. Entah bagaimana ceritanya perusahaan yang membeli inipun bernamalah Arara Abadi agaknya untuk menipu rakyat bahwa Arara Abadi ini yang sebetulnya perusahaan dajal dan menjadi perusahaan baik di mata Rusli Zainal sehingga dihadiahkan pula sabuk perusahaan terbaik dalam menyelesaikan masalah biparteit. Arara Abadi ini betul-betul penjahat perang ala Bosnia Holocaust alias pembantaian terhadap suku Sakai karena tanahnya dirampok dan mendapat beking pula dari oknum tentara yang telah pensiun maupun yang belum pensiun, mungkin ada juga polisi sehingga anak angkat saya Darus, Kepala Desa Mandiangin di depan mata saya mereka mempelupuh puluhan Sakai dan di mata saya pula mereka meluluhlantakkan rain forest di desa Mandiangin. Sampai sekarang Darus anak angkat saya yang mengambil kuliah di Lancang Kuning harus puas di tahanan di Siak sampai dia mengirimkan SMS “Tak tolok lei Ngah”. Untunglah Riau Pos besoknya memuat gambar-gambar orang Sakai ini yang dirawat di rumah sakit saya. Berapa tanah yang dirampok oleh Arara Abadi di Desa Mandiangin? 2.500 meter kubik. Siapa panglima perang yang melantak Sakai? Jensen Ko (warga negara Taiwan) yang membawahi segala preman dari Medan. Padahal Darus sudah saya kirim ke India sebagai lanjutan dari Pertemuan Bumi Sedunia di Rio de Jenairo akan hak-hak suku asli terhadap hutan, tapi ini semua tak terungkap. Lain dengan perang Israel dengan Libanon dan Israel dengan Palestina yang selalu diliput oleh Al-Jazeera bahwa hati kecil Rizkan yang dulu di CNN melihat pembantaian teroris Amerika ini di Irak maka masuklah tangisan anak-anak di Al-Jazeera dalam acara Witness. Sakai ini tersepit dan terjepit sayang tak ada CNN dan Al-Jazeera sehingga saya terpaksa membawa Hans Kalipke, Nathan sang antropolog yang dapat mengikuti hancurnya kehidupan Sakai dan pembunuhan secara massal terhadap Sakai karena tanah mereka dirampok oleh Arara Abadi.
Bagaimana kehancuran hutan Riau karena PT Indah Kiat ini? Perhitungannya dapat dibuat sebagai berikut: satu hektare hutan perawan menghasilkan 80 ton bubur kertas untuk satu ton bubur kertas. Satu hektare hutan alam menghasilkan 80 ton bubur kertas. Produksi bubur kertas dari Indah Kiat adalah 24 ribu ton bubur kertas per hari. Jadi diperlukan 24 ribu hektare bubur kertas dibagi dengan 80 ton bubur kertas adalah sama dengan 300 hektare hutan per hari. Produksi ini berasal dari 30 persen HTI dan 70 persen adalah hutan alam. Dengan demikian kehancuran hutan alam yang ditimbulkan oleh pabrik bubur kertas adalah sama dengan 70 persen kali 300 hektare yakni 200 hektare hutan alam per hari. Ini baru dari sektor Indah Kiat.
Bagaimana pula dengan RAPP? Semula 20 ribu hektare lahan diberi oleh Gubernur Soeripto kepada Sukanto Tanoto. Penduduk suku Petalangan dianggap hantu dan dibiarkan begitu saja. Saya minta waktu untuk bicara di Parlemen Finlandia yang jelas-jelas membantu RAPP yang di Singapura lebih dikenal APRIL dan menyatakan bahwa standar lingkungan yang dihasilkan RAPP sama dengan standar Eropa. Saya tahu betul bahwa di tepi kota Helsinki ada pabrik kertas tapi biaya untuk memperbaiki lingkungan habis dari setengah untung. Andai kata diestimasi produksi dari PT RAPP adalah 1,3 juta ton dan 70 persen adalah hutan alam maka PT RAPP menghancurkan hutan alam sebesar 1,3 juta ton dibagi dengan 80 ton dan dikali dengan 70 persen adalah sama dengan 113 hektare hutan alam. Total kerusakan hutan Riau akibat pabrik kertas PT IKPP dan PT RAPP adalah sama dengan 200 hektare sehari (kerusakan yang disebabkan Indah Kiat) dan 113 hektare sehari (kerusakan yang disebabkan PT RAPP) maka total kerusakan hutan Riau sehari lebih dari 300 hektare per hari. Untuk setahun adalah sama dengan 365 dikali dengan 300 hektare sama dengan 109.500 hektare. Sedangkan total hutan Riau di luar HTI terdiri dari HPH seluas 3.481.868 hektare dan pemukiman dan hutan lindung seluas 3.481.868 hektare maka dapat dikalkulasi bahwa HPH ditambah dengan pemukiman dan hutan lindung yakni sebesar 6.963.736 hektare. Realokasi untuk kedua pabrik bubur kertas dan kertas PT IKPP dan PT RAPP yang diberikan pemerintah HPH seluas 3.481.868 hektare, HTI 1.621.693 hektare, perkebunan 1.316.762 hektare sementara pemukiman dan hutan lindung seluas sama dengan HPH. Bila jumlah ini ditotal maka keseluruhan luas HPH, HTI dan perkebunan mencapai 6.420.323 hektare. Jumlah keseluruhan HPH, HTI dan perkebunan itu sendiri sudah melebihi 70 persen dari luas daratan Riau, 9.456.120 hektare. Berapa kebutuhan kayu untuk kedua perusahaan ini? Tahun 1967 sejumlah 4 juta m3, Tahun 1977 sejumlah 28 juta m3, Tahun 1987 sejumlah 40 juta m3, Tahun 1997 sejumlah 55 juta m3, Tahun 2001 sejumlah 70 juta m3 (angka perkiraan).
Walaupun Sinar Mas Group yang memiliki Indah Kiat menghadapi bangkrut sebesar US$ 1,2 miliar yang dibantu oleh pemerintah Indonesia dan termasuk kedalam perusahaan yang harus direstrukturisasi Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA) diluar dari US$ 12 miliar yang merupakan utang dari PT Indah Kiat, namun demikian ECA tidak pernah mengeluarkan satu pernyataanpun yang menyatakan bahwa kredit sebesar ini merupakan tanggung jawab ECA. Bank-bank perkreditan ECA ini tidak pernah memperhatikan lingkungan hidup yang buruk, etika perdagangan namun tetap mendapat dukungan dari bank yang tergabung dalam ECA.. Kegagalan pemerintahan provinsi maupun kabupaten untuk mengawasi kayu ilegal yang digunakan oleh pabrik PT RAPP dan PT IKPP menyebabkan pabrik ini bebas untuk memproduksi pulp dan paper berapa saja dan dapat menyuplai kayu ilegal sekehendak hati mereka. ECA sebagai perusahaan milik negara-negara kaya yang menanamkan modal pada PT RAPP maupun PT IKPP tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan hutan dan kredibilitas dari dampak lingkungan akibat operasi dari pabrik yang mendapat modal dari ECA ini.
Lama saya bermenung dengan Kapitra Ampera bagaimana PT Indahkiat yang di Jakarta bernama Sinar Mas Group yang semula menjual saham 10 dolar per saham di New York Stock Exchange akhirnya tak laku, tinggallah 10 sen. Namun hutang Eka Cipta Wijaya kepada BLBI sebesar Rp. 13,3 triliun dan US$ 12,4 miliar pada kelompok bank Export Credit Agency (ECA) hanya atas alasan perusahaan tak pernah untung tapi buntung sementara anak perusahaan Arara Abadi melantak segala hutan yang berada di Riau. Jangan dibiarkan kedua pabrik ini menjadi pabrik tekstil Sinivisan meninggalkan hutang Rp36 triliun ditambah dengan besi buruk.
Saya sangat terharu akan film yang ditayangkan oleh Pak Kapolda Sutjiptadi. Bukan itu saja tamu saya Benjamin Singer dari Forest Resources and Public Policies langsung menanya “Apa tidak ada hukum yang melindungi suku asli?”. Karena pada malam itu juga saya mengundang BEM makan malam di rumah saya. Saya tertegun mendengar pertanyaan yang begini dan tak dapat lagi berpidato pada 60 BEM yang datang ke rumah saya malam itu. Hampir 40 tahun saya tinggal di Pekanbaru dan baru kali ini saya menemukan Kapolda yang benar-benar menyuarakan hati rakyat. Ketika saya bicara pada Ka’ban bahwa putra Dedi S Komarudin ikut terlibat dalam illegal logging sehingga dapat menyumbang Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian satu milyar. Bagaimana tak banyak duit kalau Kapolda berpihak pada cukong. Babat Pak Kapolda. Bapak di pihak yang benar dan ada ribuan mahasiswa yang berakal sehat mendukung Bapak. Selamat bertindak Pak. Inilah perubahan yang diinginkan Riau. Sekali lagi selamat Pak Sutjiptadi untuk memberantas illegal logging dalam perusahaan legal logging.***
Thursday, 4 October 2007
Tabrani : Hormat Pak Kapolda Riau
Posted by
Pustaka Digital
at
6:14 am
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment